Rabu, 13 Juni 2012
PISAU DAPUR
Sepintas mungkin orang mengira kalau pisau dapur hanya berfungsi sekedar mengiris bawang, kentang dan sayur-sayuran, kenyataanya memang begitu jika dilihat dari segi wujud fisiknya. Namun bisa bermakna apa saja dan bahkan akan mempunyai arti yang mendalam apabila dilirik dari sudut pandang lain. Dalam dunia hukum misalnya ada istilah “Filsafat Pisau Dapur”, oleh praktisi hukum bahasa ini sering diungkapkan untuk sindiran sekaligus menggambarkan kondisi hukum yang berlaku.
Sampai saat ini filsafat pisau dapur sepertinya tetap eksis dan masih cocok untuk menggambarkan kondisi riil hukum di Indonesia, apa tah lagi di bumi lancang kuning ini, dimana pisau dapur hanya berfungsi untuk menghabisi yang di bawahnya, kerana memang tajamnya dibagian bawah dan tumpul dibagian atas, itupun hanya mampu untuk yang kecil-kecil saja. Sebut saja kasus Illegal logging misalnya, adanya keinginan serius dari pihak Kapolda Riau dalam upaya menegakkan hukum di satu sisi tentu sangat kita dukung, namun di sisi lain berbagai kecaman yang ditujukan kepada penegak hukum ini dengan mengatakan dan mengemboskan selalu kata-kata “Praduga Tidak Bersalah” tentu sangat kita sayangkan, karena sangat kelihatan sekali tedensiusnya, apalagi diucapkan oleh para petinggi negeri ini, padahal dalam kasus ini jangankan pihak polisi, masyarakat awam pun sebenarnya juga tahu tentang slogan hukum tersebut. Dan seyogyanya semua kita tidak perlu elergi atau takut dengan hukum, apalagi hanya sekedar diminta keterangan, karena kalau sekiranya tidak terbukti bukankah sudah ada aturan hukum lain yang mengaturnya, makanya sangat wajar dikatakan bagaimana mungkin hukum dapat dijadikan panglima jika para petinggi negeri ini dan kita semua tidak taat hukum.,
Jadi... yaa.. begitulah hukum kita, hukum yang sedang berlaku di bangsa yang katanya milik kita bersama ini, memang benar adanya bahwa sejak bangsa tercinta kita dideklerasikan kemerdekaannya sampai zaman reformasi sekarang, hukum hanya diberlakukan/tajam untuk rakyat jelata, tetapi tidak pada petinggi negara, sehingga kondisi ini sering diungkapkan orang seperti pisau dapur. Padahal Konstitusi kita (UUD 1945) sudah menegaskan bahwa seluruh rakyat Indonesia mempunyai kedudukan yang sama dihadapan hukum. Manaa .......? huuu.. omong kosong.
Sebenarnya hukum sebagai alat kontrol sosial yang kuat diharapkan mampu membimbing dan mengarahkan perilaku semua warga bangsa, agar tidak menyimpang dari norma-norma atau nilai-nilai luhur bangsa dan keadilan, ternyata sampai detik ini belum berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.
Hukum memang alat bagi penguasa untuk menjalankan kehidupan bernegara dalam rangka mencapai tujuan bangsa, tetapi seyogyanya hukum juga bisa menangkap para penguasa yang tidak memfungsikannya sesuai dengan semestinya, dan inilah yang masih jauh panggang dari api dalam pengamatan kita di bangsa yang memang sudah sangat kacau ini. Akan kah di masa yang akan datang muncul pisau dapur yang bermata dua?.
Wallahu a’lam.
Minggu, 01 Januari 2012
RENUNGAN MINGGU INI
INGATLAH SHOBAT
Kemulian tidakkan datang sebagai hadiah, tetapi dengan keringat..
ia membutuhkan kesabaran yang berlipat, dan dalam waktu yang lama.
Siapapun yang berjalan… maka ia akan sampai, karena Istana yang indah dibangun dengan kekuatan, begitu juga kemuliaan direkrut dengan kekuatan.
Pemilik cita-cita sejati tak peduli dengan panas, tak takut menghadapi dingin, tak goyah oleh bahaya, dan tak gelisah oleh kepahitan.
Tahukah anda bahwa telah rabun mata sebagian para pencari hadits, karena banyaknya meriwayatkan hadits, namun mereka tidak diam dan berhenti.
Imam Ahmad ibn Hambal berjalan dari Baghdad ke Shan’a dan ke Mesir berbulan-bulan lamanya demi mencari 1 (satu) hadits.
Orang bijak bilang Air yang diam adalah air yang rusak,
Allah ingin menyaksikan amal-amal kita.
Hidup ini adalah aqidah dan jihad, kesabaran dan kekuatan, pengorbanan dan perjuangan, kebaktian dan kemenangan.
Tidak ada tempat dalam hidup ini bagi para pemalas dan banyak makan. Carilah pahala sejak pajar dengan membaca dan berzikir, do’a, atau bersyukur.
Ketahuilah sejak itulah Allah memberkati umatnya, sa’at itu pula burung-burung berangkat dari sarang-sarangnya.
Katakan kepada si pemalas yang banyak tidur, suka melamun, ENGKAU TIDAKKAN PERNAH MENJUMPAI SETETESPUN YANG NAMANYA KEMULIAAN, ATAU MENYAKSIKAN SECERCAH CAHAYA KETINGGIAN.
Wallahu a’lam.
Kemulian tidakkan datang sebagai hadiah, tetapi dengan keringat..
ia membutuhkan kesabaran yang berlipat, dan dalam waktu yang lama.
Siapapun yang berjalan… maka ia akan sampai, karena Istana yang indah dibangun dengan kekuatan, begitu juga kemuliaan direkrut dengan kekuatan.
Pemilik cita-cita sejati tak peduli dengan panas, tak takut menghadapi dingin, tak goyah oleh bahaya, dan tak gelisah oleh kepahitan.
Tahukah anda bahwa telah rabun mata sebagian para pencari hadits, karena banyaknya meriwayatkan hadits, namun mereka tidak diam dan berhenti.
Imam Ahmad ibn Hambal berjalan dari Baghdad ke Shan’a dan ke Mesir berbulan-bulan lamanya demi mencari 1 (satu) hadits.
Orang bijak bilang Air yang diam adalah air yang rusak,
Allah ingin menyaksikan amal-amal kita.
Hidup ini adalah aqidah dan jihad, kesabaran dan kekuatan, pengorbanan dan perjuangan, kebaktian dan kemenangan.
Tidak ada tempat dalam hidup ini bagi para pemalas dan banyak makan. Carilah pahala sejak pajar dengan membaca dan berzikir, do’a, atau bersyukur.
Ketahuilah sejak itulah Allah memberkati umatnya, sa’at itu pula burung-burung berangkat dari sarang-sarangnya.
Katakan kepada si pemalas yang banyak tidur, suka melamun, ENGKAU TIDAKKAN PERNAH MENJUMPAI SETETESPUN YANG NAMANYA KEMULIAAN, ATAU MENYAKSIKAN SECERCAH CAHAYA KETINGGIAN.
Wallahu a’lam.
Langganan:
Postingan (Atom)